Langsung ke konten utama

Kista, Tumor dan Kanker.

Semuanya berawal ketika pada siang hari tubuh ini langsung merasakan demam yang luar biasa tanpa ada gejala apapun sebelumnya. Tiba-tiba badan ini terasa sangat dingin dan kepala terasa sakit. Mungkin demam biasa saja, dan karena baru terasa gejalanya, maka tidak diperiksakan ke dokter karena biasanya kalau belum 3 hari itu susah diagnosanya. Tidak lama setelah itu ada rasa ingin buang air kecil dan anehnya hanya keluar sedikit sekali dan berasa tidak tuntas. Yang membuat panik adalah perasaan ingin buang air kecil yang hampir kurang dari 5 menit sekali dan itu terjadi selama 1 jam dan keluar setetes gumpalan seperi jeli bewarna merah segar. Akhirnya diputuskan untuk periksa ke dokter segera.

Saya pengguna BPJS dan terbiasa menggunakannya, jadi saya daftar dan segera berangkat ke faskes 1. Setelah diperiksa maka diagnosanya adalah infeksi saluran kencing. Saya diberi antibiotik cipro dengan pesan apabila dalam 3 hari tidak ada perubahan, agar segera datang kembali untuk dirujuk ke dokter spesialis. 

Setelah 3 hari, kencing masih terasa tersendat dan tidak tuntas. Kembali saya datang ke faskes 1 dan dirujuk ke spesialis bedah urology di rumah sakit swasta di Bandung. Kemudian saya pergi ke rumah sakit tersebut dan konsul dengan dokternya. Diagnosa masih sama, hanya dibilang ada kemungkinan ada batu pada ginjal yang menyebabkan infeksi. Saya disuruh datang kembali beberapa hari kemudian untuk melakukan USG.

Pada hari yang telah ditentukan, datanglah saya untuk langsung melakukan USG. Dikarenakan datangnya agak telat dan sedikit salah masuk pendaftaran di gedung lain, jadi saya harus menunggu cukup lama. Saya datang ke rs pukul 6.30an dan baru diperiksa sekitar pukul 1 siang. Menunggu adalah hal yang biasa buat saya, hanya yang mengganggu adalah harus menahan kencing sebelum diperiksa. Setelah masuk dan diperiksa beberapa waktu, dokter yang memeriksa bertanya sampai berkali-kali, apakah saya melakukan pemeriksaan USG pertama kali dan saya jawab baru pertama kali memang, bahkan seumur hidup juga baru pertama kali di USG. Setelah selesai, saya bertanya bagaimana hasilnya dan dokter yang memeriksa hanya bilang nanti saja ketika konsul dengan dokter bedah urologynya.

Setelah mendapatkan hasil USG, saya mendatangi dokter urology untuk konsultasi. Tidak lama, sekitar 1 jam saja. Sayangnya ketika saya datang, dokter sudah pulang dan asisten dokternya yang membacakan hasil tersebut. Hasilnya sangat mengejutkan, selain ada batu ukurn 1x2cm ternyata terlihat adanya masa pada ginjal saya. Masa tersebut bisa saja kista, tumor, bahkan kanker. Dengan perasaan yang tidak karuan, saya mencoba menenangkan diri dan bertanya lebih lanjut. Katanya saya dianjurkan untuk CT Scan untuk melihat lebih jelas. Hal ini sesuai dengan saran dokter USG. Sang asisten pun sudah menghubungi dokter untuk konsultasi lewat telepon dan dokter menyetujui untuk dilakukan CT scan. Dikarenakan menggunaan BPJS, maka prosedur CT scan yang ditanggung adalalah tanpa kontras. 

Pada saat itu, sempat-sempatnya saya berfikir "waduh, CT scan berapa biayanya ini..." dan akhirnya saya pun bertanya, apakah ditanggung BPJS atau tidak. Setelah koordinasi dengan bagian radiology, akhirnya diberitahukan kepada saya bahwa prosedur CT scan-nya bisa ditanggung BPJS, hanya saja tanpa kontras. Jadi akhirnya saya memutusan untuk CT Scan tanpa kontras di rumah sakit tersebut.  Setelah menjelaskan prosedur CT scan yaitu saya harus hanya makan bubur nasi putih dengan garam atau kecap saja sehari sebelum pemeriksaan dan diberikan obat pencahar yang harus diminum dan pencahar yang berbentuk kapsul yang dimasukan kedalam anus pada pagi hari sebelum pemeriksaan. Intinya adalah mengosongkan perut karena ada satu prosedur lagi yang entah hanya ada di rs itu, atau karena tidak menggunakan zat kontras, atau karena ini pemeriksaan yg masih umum walau spesifik di abdomen bawah. Saya juga sempat menanyakan harga pemeriksaan CT Scan tersebut, kalau tanpa kontras itu 2 juta kurang, sedangkan menggunakan kontras sekitar 5 jutaan,

Tiba waktu pemeriksaan dan saya datang ke bagian radiology. Setelah melepas semua pakaian dan menggantinya dengan jubah khusus saya dibawa ke ruang CT Scan. Petugas pun menjelaskan bahwa, dia akan memasukan selang ke anus dan mengisinya dengan cairan. Dengan perasaan kaget, saya bertanya, sakit tidak, dan petugas menjawab tidak sakit, hanya nanti pas diisi cairan maka akan terasa seperti ingin buang air besar, perasaan tersebut wajar dan harus ditahan selama prosedur. Prosedur ini memakan waktu sekitar 30 menit saja. Hasil CT Scan baru keluar 3 hari kerja.

Setelah hasil CT scan keluar, saya pun konsultasi kembali ke dokter urology. Dari hasil penjelasan dokter tersebut, ditemukan adanya masa dengan diamter kurang lebih 7cm dan terlihat sepertinya berongga. Karena tidak menggunakan kontras, hasilnya kurang begitu jelas. Fokus pun berubah dari batu ginjal ke masa ini. Menurut beliau, setelah menganalisa, maka disarankan untuk melakukan bedah untuk mengangkat ginjal tersebut. Kaget, panik dan takut pun melanda. Saya bertanya apakah tidak bisa diangkat masanya itu? Dokter pun bilang, karena dia tidak yakin apakah masa ini hanya kista, tumor, ataupun kanker, maka dia memberitahu kenapa dia memutuskan seperti itu. Hal ini dikarenakan dia tidak yakin bisa hanya memotong masa tersebut karena dinding ginjanya sudah sangat tipis, dan kalaupun bisa memotong dan setelah diteliti ternyata kanker maka mau tidak mau harus diangkat semua termasuk nanti apabila ada organ lain yang terlihat terkena dampaknya yang harus diangkat juga. Jadi dokter tidak bisa menentukan apakah ini kista, tumor, atau kanker. Jadi beliau memberika solusi sementara dengan melakukan operasi pengangkatan seluruh ginjal kiri yang ada masa tersebut.

gambar CT scan non kontras, terlihat masa berbentuk bundar di kanan

tampak masa berbentuk bundar di sebelah kanan


Dengan perasaan shock, sedih, takut, galau dan semua perasaan negatif yang ada berkecamuk, akhirnya saya mencoba menenangkan diri dan meminta waktu ke dokter untuk mempertimbangkannya. Dokternya bilang, sebenarnya apabila tidak mengganggu, ya biarkan saja. Tapi kalau sampai berdampak bagi kesehatan, seperti infeksi berkelanjutan, dia menyarankan untuk diangkat saja.

Setelah beberapa hari akhirnya saya bisa berdamai dengan keadaan ini. Saya harus bisa ikhlas menerima kenyataan tersebut dengan harapan masih bisa hidup hanya dengan 1 ginjal saja. Istri saya menyarankan konsul ke dokter lain untuk mendapatkan second opinion, dan saya menyetujuinya. Saya akan mencari dokter lain untuk konsul kembali.

Setelah bercerita ke keluarga, akhirnya pihak keluarga pun menyarankan mencari pendapat dokter lain di Penang Malaysia. Saya pun bilang untuk berobat kesana mahal, tapi dia bilang kalau disana murah, sama seperti rs swasta di jakarta biayanya. Sedikit tidak percaya, tapi dia pernah kesana. Akhirnya dia bilang, setelah dia konsul dengan atasannya yang lebih pengalaman, maka dia bilang coba diperiksakan ke Singapura saja, siapa tau bisa hanya diberi obat saja karena ada yang pengalaman begitu katanya. Dengan perasaan senang, seakan ada harapan baru, saya pun kembali optimis walau kembali dihadapkan dengan kenyataan dari mana biaya itu nantinya.

Untungnya dengan kebaikan hatinya, dia mau menanggung biaya berobat dan akomodasinya, saya hanya tinggal berangkat, tapi dia tidak bisa menemani karena ada kesibukan lain. Jadi saya harus melakukannya sendiri padahal belum pernah ke Singapura atau ke luar negeri lainnya. Sempat ragu karena belum pernah pergi ke luar negeri sebelumya, takut nyasar, takut tidak bisa komunikasi dan lainnya. Semua keraguan tersebut saya hilangkan demi kesembuhan ini, dengan modal nekad untuk berani pergi berobat ke Singapura.

Inilah awal perjalanan pengobatan saya yang sampai saat ini saya masih melakukan pengobatan ginjal kiri saya ini. Jadi kemungkinan besar blog ini kedepannya akan lebih banyak bercerita mengenai pengalaman berobat saya. Bukan untuk pamer atau menggurui, saya hanya ingin berbagi saja, siapa tau ada yang mengalami apa yang saya alami ini dan bisa menjadikan gambaran apa yang akan dihadapi kedepannya sesuai dengan pengalaman saya.

Oya, mungkin ada yang belum tahu bedanya kista, tumor dan kanker akan saya sedikit bagi dari informasi yang saya dapat sesederhana mungkin:

  • Kista adalah masa berongga yang berisi cairan, cenderung tidak berbahaya kecuali ada pertanda khusus seperti adanya indikasi bosniak level 3 dimana kemungkinan 50% bisa jadi kanker ;
  • Tumor adalah masa yang padat, 50% kemungkinan kanker;
  • Kanker adalah tumor ganas, sangat berbahaya.
untuk info lengkapnya silahkan dicari di mesin pencari andalan masing-masing.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertama Kali Berobat ke Mount Elizabeth Singapura dan kuliner di Singapura

Untuk mendapatkan second opinion mengenai adanya "masa" di ginjal saya dan atas rekomendasi dari agen kesehatan maka saya diarahkan untuk datang ke Urology di Mount Elisabeth Hospital Singapura. Rumah sakit ini belakangan saya ketahui ternyata ada di 2 lokasi. Yang pertama itu di jalan Mount Elizabeth daerah orchad dan satu lagi yang terbaru dibangun yangdisebut Mount Elizabeth Novena di jalan  Irrawaddy. Saya memeriksakan diri di rumah sakit yang di jalan Mount Elizabeth. Saya menginap di York Hotel yang lokasinya dekat dengan rumah sakit tersebut. Setelah semalam lelah perjalanan, pagi harinya pun kami bersiap. Dari jendela suasana pagi tidak ramai, padahal waktu sudah menunjukan pukul 07.00 waktu Singapura. Yang terlihat paling hanya ada beberapa anak yang akan berangkat sekolah. Saya sengaja tidak mengambil sarapan di hotel karena selain harganya yang lumayan, sekitar 25 SGD/orang, saya juga mempertimbangkan apabila nanti ada test lab dan harus puasa maka bisa dilakukan h...

Pertama kali pergi ke Singapura, juga pertama kalinya pergi ke luar negeri.

Kalau naik pesawat, saya pernah ketika masih bekerja di Batam. Tapi pergi ke luar negeri, khususnya Singapura belum pernah dilakukan walaupun sempat tinggal dan bekerja di Batam selama 3 tahun. Tiket penyebarangan masih murah waktu itu, kalau tidak salah sekitar 125rban pakai speed boat. Saya tidak mau pergi kesana karena konon katanya kalau paspor kita bukan paspor yang dikeluarkan di Batam maka akan ada biaya fiskal sebesar 250rb atau 300rb (saya lupa pastinya). Jadi selama 3 tahun di Batam saya tidak pernah mencoba menyebrang ke Singapura atau Malaysia. Kembali ke sekarang, perjalanan ke Singapura ini sebenarnya atas rekomendasi keluarga agar saya bisa mencoba mendapatkan second opinion atas penyakit ginjal saya. Walau awalnya berencana ke Penang, atas saran atasan kerabat saya tersebut maka pengobatanya dialihkan ke Singapura. Kerabat saya menggunakan jasa agen kesehatan dan merekomendasikan berobat ke salah satu klinik urology di Mount Elizabeth Hospital. Akhirnya dibuatkan lah ja...