Kalau naik pesawat, saya pernah ketika masih bekerja di Batam. Tapi pergi ke luar negeri, khususnya Singapura belum pernah dilakukan walaupun sempat tinggal dan bekerja di Batam selama 3 tahun. Tiket penyebarangan masih murah waktu itu, kalau tidak salah sekitar 125rban pakai speed boat. Saya tidak mau pergi kesana karena konon katanya kalau paspor kita bukan paspor yang dikeluarkan di Batam maka akan ada biaya fiskal sebesar 250rb atau 300rb (saya lupa pastinya). Jadi selama 3 tahun di Batam saya tidak pernah mencoba menyebrang ke Singapura atau Malaysia.
Kembali ke sekarang, perjalanan ke Singapura ini sebenarnya atas rekomendasi keluarga agar saya bisa mencoba mendapatkan second opinion atas penyakit ginjal saya. Walau awalnya berencana ke Penang, atas saran atasan kerabat saya tersebut maka pengobatanya dialihkan ke Singapura. Kerabat saya menggunakan jasa agen kesehatan dan merekomendasikan berobat ke salah satu klinik urology di Mount Elizabeth Hospital. Akhirnya dibuatkan lah janji dengan dokter tersebut di bulan Maret 2025 dan saya direkomendasikan datang pukul 09.00 waktu Singapura walaupun janji temunya pukul 12.00 dengan alasan agar ada waktu untuk mengurus administrasinya.
Disatu sisi saya merasa senang karena bisa berobat ke dokter di Singapura dengan seluruh biaya termasuk akomodasi ditanggung kerabat saya, tapi disisi lain, saya benar-benar sendirian disana karena istri saya yang saya ajak untuk menemani pun belum pernah ke luar negeri juga. Ada perasaan takut, takut nyasar, takut tidak bisa komunikasi, taut serba mahal, dan takut mendapatkan saran yang sama dengan dokter di Indonesia. Saya takut tidak bisa berkomunikasi karena saya tidak bisa berbicara bahasa mandarin dan bahasa Inggris saya pun pasif. Saya suka baca buku bahasa Inggris dan tidak terllau kesulitan untuk memahami isinya, bahkan saya juga mampu me-review dan merancang draft kontrak dengan bahasa Inggris, tapi saya tidak pernah berbicara bahasa Inggris secara aktif, bahkan nonton film pun saya masih menggunakan text Sejelek itulah bahasa Inggris saya.
Tapi dengan berat keinginan untuk sembuh, semua itu saya buang jauh-jauh. Saya mencari informasi cara naik pesawat ke luar negeri, informasi dokumen yang dibutuhkan untuk memasuki Singapura, dan informasi cara naik transportasi umum disana, informasi tempat makan yang murah dan tentunya tempat wisata yang gratis. Google Maps pun menjadi senjata andalan saya disana.
Persiapanpun dilakukan sebelum berangkat. Saya membawa beberapa pakaian dengan bahan dryfit agar ringan dan mudah kering juga nyaman digunakan. Tas saya memilih bentuk ransel dibanding koper dorong. Terdengar tidak praktis, tapi dengan tas ransel bisa bergerak lebih lincah dan bisa melewati jalan manapun karena di beberapa tempat, koper tidak bisa melewati eskalator. Belum lagi nanti kalau naik turun tangga biasa yang pasti akan terasa lebih berat menenteng dibanding menggendong. Untuk air minum pun membawa beberapa tumbler plastik. Untuk colokan listrik, karena beda, saya membawa adaptor juga. Segala cairan dihindari, kalaupun terpkasa bawa, dipastikan tidak lebih dari 100ml per kemasannya dan dimasukan kedalam kantong zipper plastik ukuran A4 untuk memudahkan ketika nanti ada pemeriksaan. Kami juga mengisi SGAC atau SG Arrival Card sebagai syarat memasuki negara Singapura. Pengisian ini harus dilakukan paling cepat 3 hari sebelum kedatangan. Untuk transportasi menggunaan MRT, kami menyiapkan kartu debit dan kredit visa yang ada logo contactless-nya. Jadi tidak harus kartu kredit, debit juga bisa asal visa/mastercard yang berlogo contacless dan ada saldonya untuk kartu debit. Jangan lupa mengaktifkan fitur contactless-nya juga. Terakhir, persiapan membeli paket roaming data agar bisa menggunakan internet disana.
Pada hari keberangkatan, di video-video yang saya tonton, mereka menyarankan agar datang minimal 3 jam sebelum kedatangan agar tidak terburu-buru. Karena saya dari Bandung, dan takut ada kendala di perjalanan, saya berangkat sekitar pukul 07.00 menggunakan travel khusus bandara. Walaupun jadwal penerbangan saya pukul 17.30 menggunakan Citilink, kami berangkat awal agar lebih tenang, lebih baik menunggu di bandara daripada telat dan gagal terbang. Itulah yang ada di benak kami dan kami pun tiba di bandara sekitar pukul 10.00 lebih. Sangat banyak waktu tersisa menuju keberangkatan kami.
Kami tiba di terminal 2F terlalu dini karena tidak bisa check-in juga. Check-in baru dibuka 3 jam sebelum keberangkatan. Akhirnya kamipun memutuskan untuk jalan-jalan di bandara. Ketika jam makan siang, kebetulan kami sedang di stasiun Kalayang, stasiun sky train yang menghubungkan terminal-terminal di bandara Soekarno-Hatta. Kami pun memutuskan makan bekal yang telah kami siapkan sebelumnya disana. Di stasiun ini ada tempat untuk refill air minum, jadi sangat pas untuk lokasi makan kami. Setelah mengisi perut kami, mengisi air minum kami dan mengisi daya handphone kami pun kembali ke terminal 2F.
Sekitar pukul 02.00 saya memasuki area tunggu dibagian dalam, dan saya melihat dipojok ada konter Citilink yang sudah ada petugasya. Penasaran, walaupun belum 3 jam sebelumnya saya memberanikan diri menanyakan apakah sudah bisa check-in dan ternyata bisa. Kami pun check-in di konter. Kami ditanya tujuan ke Singapura untuk apa, berapa lama dan apakah kami sudah ada tiket untuk pulangnya. Kami belum punya tiket pulang dikarenakan belum tahu pasti berapa lama kami akan tinggal, semuanya tergantung hasil pemeriksaan dokter. Agak janggal memang, kenapa pertanyaaan seperti itu ditanyakan oleh konter penerbangan bukan petugas imigrasi yang akhirnya kami pahami kenapa ditanyakan disana karena nanti ketika masuk area imigrasi, menggunaan autogate, jadi petugas imigrasinya hanya beberapa orang saja untuk menangani gate manual, jadi pertanyaan tersebut ditanyakan oleh petugas konter penerbangan.
Setelah check-in kami pun melewati pos keamanan, sesuai dengan video yang saya tonton sebelumnya, saya melepaskan kacamata, topi, dompet, jam tangan, handphone dan semua isi saku celana dan memasukannya kedalam jaket dan jaket dimasukan kedalam tray. Barang-barang itu sebaiknya tidak terlihat, terutama barang berharga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pada pemeriksaan, kami tidak perlu membuka sepatu karena sepatu baru dibuka ketika mencapai ketebalan tertentu saja. Sebelum masuk pos keamanan, pastikan semua botol minum dan cairan dalam keadaan kosong. Saya sudah menanyakan bisa refill minum tidak didalam pada petugas konter, katanya ada setelah pos imigrasi.
Memasuki pos imigrasi, semuanya berjalan dengan lancar dan cepat berkat sistem autogate, Jadi kita hanya melakukan scan paspor dan scan wajah saja maka kita langsung melewati pos tersebut. Ada beberapa petugas imigrasi yang siap membantu ketika ada masalah, tapi agak disayangkan petugasnya tersebut terkesan galak baik dari tampang dan perkataan. Mungkin mereka maksudnya ingin menampilkan kesan tegas, tapi kemudian setelah saya melewati petugas imigrasi di Singapura dan Malaysia, saya kembali ke kesan saya bahwa petugasnya memang galak. Meskipun galak, tetap sangat membantu kok kalau ada masalah.
Dari konter check-in pertama kali hingga gate yang dituju ternyata tidak selama yang dibayangkan. Semuanya berlangsung kurang dari 1 jam saja. Mungkin kebetulan tidak terlalu ramai, berbeda di pagi hari dimana saya melihat antrian pos keamanan sangat panjang. Karena waktu keberangkatan masih lama, kami pun kembali menunggu di area gate. Disini kami mencari-cari refill minuman tetapi tidak menemukan. Bahkan kembali kami sisir dari awal pos imigrasi hingga area gate kami tidak menemukan. Terpaksa kami membeli air mineral 600ml dengan harga 10.000. Sesuatu yang menyesakan bagi kami untuk keluar uang sebesar itu hanya untuk air mineral. Kami pun terpaksa merelakannya karena air putih sangat penting bagi kami. Kami sangat suka minum air putih.
![]() |
| Pesawat All Nippon Airways |
Tempat menunggu kali ini menurut kami yang terbaik, karena ada beberapa sofa selain kursi biasa. Hal ini juga ditunjang dengan pemandangan pesawat yang sedang parkir, loading atau unloading kargo. Pesawat kami belum terlihat di area parkir. Ketika menunggu ini terlihatlah pesawat ANA, saya pun menunjukan kepada istri saya dan bilang, nanti kalau kita ke Jepang naik yang itu loh. Salah satu cita-cita kami ketika tua nanti mau jalan-jalan ke jepang menyusuri jepang menggunakan kereta dan menikmati kuliner dan pemandangan pedesaan disana.
Waktu keberangkatanpun tiba, kami bersiap memasuki pesawat, tetapi peswatnya masih belum terlihat. Ternyata kami tidak memasuki garbarata, kami harus naik bus menuju pesawar dengan alasan landasan tersebut lagi di sterilkan untuk umroh dan haji.
Masuk ke pesawat, kembali teringat rasanya pertama kali naik pesawat ke Batam dulu. masih teringat rasanya tegangnya take-off atau landing pertama kali dulu. Saya pun memperhatikan wajah istri saya, ternyata dia tampak tenang dan senang dan saya pun bersyukur. Perjalanan berlangsung kurang lebih 2 jam. dan sekitar pukul 08.00 atau puku 09.00 di Singapura pesawatpun mendarat dengan selamat di bandara Changi.
Ketika turun dari pesawat, saya ikuti instruksi di video sebelumnya yang sudah saya tonton kalau kita tinggal mengikuti saja petunjuk keluar ke arah kedatangan. Changi sangat luas, bahkan kami pun harus melewati perjalanan yang panjang, kurang lebih 4-5 travelator/auto-walk untuk memasuki imigrasi. Di area imigrasi semuanya berjalan dengan cepat dengan petugas yang sangat ramah dengan senyum dan sapanya yang membantu saat kami kebingungan. Untungnya petugasnya menguasai bahasa melayu sehingga gampang dimengerti.
Maskot bandara Changi
Proses keluar imigrasi dari turun pesawat pun berlangsung cukup lancar dan memakan waktu kurang lebih 1 jam. Karena kami belum makan malam, maka kamipun memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu, kami pun mencari kantin. Proses pencarian ini pun agak membingungkan, mungkin karena kami sudah lelah dan lapar juga jadi kurang fokus yang menyebabkan pencarian ini sedikit berputar-putar. Ketika sudah menemukan lokasi kantinnya, ternyata hampir semua sudah tutup. Ada sih beberapa kafe yang buka, tapi harganya diatas 20SGD, cukup memberatkan bagi kami. Akhirnya setelah berputar-putar mencari makanan yang murah, kami pun memutuskan membeli bakpao saja karna hargaya 2 SGD per pcs kecuali yang namanya AMY YIP PAO seharga 5 atau 7 SGD saya lupa. Tapi beneran ini namanya AMY YIP PAO? Ami Yip dan Pao, terbahak-bahaklah saya dalam hati. Mungkin untuk pria seumuran saya pasti tau siapa Amy Yip. Dan memang Pao yang dijual itu memang sebesar itu, makanya saya tertawa dalam hati. Saya tidak beli karena mau menghemat dulu dan kami membeli 4pcs pao dengan berbagai rasa manis agar lebih mengenyangkan dan memberikan energi. Saya menyebut bakpao diawal agar tidak membingungkan. Walau Pao yang saya beli bukan Bak melainkan yang manis. Sebagai pengetahuan saja, Bak itu daging, tapi bagi orang cina, ketika berbicara daging maksudnya itu sangat spesifik ke daging babi, karena ayam atau sapi lain lagi namanya. Hal ini karena kultur mereka adalah memakan dan beternak babi. Jadi bakpao itu pao isi daging babi.
Setelah makan di spot yang ada kolamnya, kamipun bergegas untuk mencari stasiun MRT. Kami mulai mengandalkan Google Maps untuk mencapai hotel. Dalam menu Maps, pilih logo transportasi umum dan disana semuanya jelas petunjuknya. Mulai harus jalan kemana dan naik mrt apa, turun dimana dan sebagainya. Kami menginap di hotel York dekat rumah sakit Mount Elizabeth, skitar 100 meter saja kurang lebih. Kami diarahkan naik MRT ke Tanah merah dan ganti kereta ke NS arah Tuas Link. Kami nanti turun di Orchad. Terbayang dimata kami suasana Orchad malam hari yang pasti ramai dan seru. Disini saya melakukan kesalahan dengan tidak membaca harus keluar di pintu mana, karena dalam benak saya pintunya pasti 1. Ternyata Orchad memiliki banyak pintu keluar, dan itu ada petunjuknya. Sebenernya petunjuk arah di Singapura sangat luar biasa, sangat jelas. Waktu itu saya mengikuti langkah yang diarahkan google maps dan sy keluar di pintu yang ternyata agak jauh sehingga saya harus sedikit memutar. Seharusnya saya keluar di pintu yang menuju Lucky Plaza agar lebih dekat. Belajar dari sini, sekarang saya selalu melihat petunjuknya lagi karena di aplikasi maps disebutkan harus keluar pintu "x" misalkan, maka kita tinggal lihat petunjuk arah pintu "x" itu kemana. Semuanya jelas.
Keluar stasiun MRT saya pun kaget, ternyata bayangan saya tentang Orchad yang ramai sirna. Suasana sepi walaupun tidak terlalu gelap. Mall dan plaza sudah tutup semua, orang jarang berlalu lalang. Hanya ada pedagang kios Seven Eleven yang masih berjualan, beberapa anak yang sedang main skateboard dan beberapa pekerja yang sedang bersitirahat dan merokok. Ya, betul, merokok. Sedikit kaget karena sepengetahuan saya aturan merokok di Singapura sangat ketat, tapi nyatanya saya menemukan pemandangan tersebut di malam hari di daerah Orchad.
Menuju perjalanan ke hotel, kami pn melewati jalan yang bukan plaza atau mall pemandangannya, hanya saja mulai tercium aroma yang mengganggu, bau kotoran burung. Di trotoar terlihat banyak kotoran burung dan dipohon yang kami lewati pasti ada banyak burung bertengger. Sebuah pemandangan yang memupuskan bayangan saya mengenai Singapura yang terkenal bersih. Memang mengejutkan, akan tetapi semuanya itu akan berbalik arah ketika siang hari dimana bayangan saya mengenai Singapura memang tergambar sesuai dengan kenyataannya. Singapura malam hari berbeda jauh dengan siang hari.
Itulah kesan pertama kali datang ke Singapura. Sebuah kesan yang cukup mendalam bahwa sebaik-baiknya sesuatu pasti ada kekurangannya juga. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Saya beryukur sampai saat itu, sampai saya bisa datang ke hotel dan beristirahat, segala sesuatunya berjalan dengan lancar, semua ketakutan saya sirna dan lebih percaya diri menjelajah Singapura esok hari.

Komentar
Posting Komentar