Untuk mendapatkan second opinion mengenai adanya "masa" di ginjal saya dan atas rekomendasi dari agen kesehatan maka saya diarahkan untuk datang ke Urology di Mount Elisabeth Hospital Singapura. Rumah sakit ini belakangan saya ketahui ternyata ada di 2 lokasi. Yang pertama itu di jalan Mount Elizabeth daerah orchad dan satu lagi yang terbaru dibangun yangdisebut Mount Elizabeth Novena di jalan Irrawaddy. Saya memeriksakan diri di rumah sakit yang di jalan Mount Elizabeth.
Saya menginap di York Hotel yang lokasinya dekat dengan rumah sakit tersebut. Setelah semalam lelah perjalanan, pagi harinya pun kami bersiap. Dari jendela suasana pagi tidak ramai, padahal waktu sudah menunjukan pukul 07.00 waktu Singapura. Yang terlihat paling hanya ada beberapa anak yang akan berangkat sekolah. Saya sengaja tidak mengambil sarapan di hotel karena selain harganya yang lumayan, sekitar 25 SGD/orang, saya juga mempertimbangkan apabila nanti ada test lab dan harus puasa maka bisa dilakukan hari itu juga.
Pukul 09.00 saya dan istri saya berangkat ke rumah sakit dengan jalan kaki karena lokasinya dekat. Semalam ketika menuju hotel dari stasiun mrt juga melawati rumah sakit ini.
Rumah sakit ini tidak terlalu besar seperti yang saya bayangkan, mungkin dengan rumah sakit Imanuel bandung lebih luas rs Imanuel. Yang membedakan tentu kualitas interiornya yang harus saya akui lebih baik.
Tiba di rumah sakit, yang pertama dicari adalah pusat informasi untuk menanyakan klinik yang dituju itu dimana. Setelah mendapatkan informasi kamipun menuju klinik tersebut. Sesampai di klinik kami disambut ramah oleh staff disana. Kami menyatakan kami sudah ada janji pukul 12.00 dan mereka menanyakan apakah saya ada penerjemah karena saya bilang sudah membuat janji melalui agen. Urusan agen ini juga menjadi catatan khusus, agen menyarankan untuk datang pukul 09.00 dan sudah ada janji, nyatanya tidak ada. Permasalahannya adalah saya kurang percaya diri untuk berbicara atau mendengarkan dalam bahasa Inggris. Walaupun sampai saat itu saya berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris karena awalnya mereka langsung mengajak komunikasi dalam bahasa Mandarin. Untungnya ada salah satu staff bisa berbahasa melayu dan dia menawarkan diri untuk menjadi penterjemah. Setelah proses registrasi kami pun harus menunggu sekitar 2 antrian karena datang tanpa janji terlebih dahulu. Menunggu 2 antrian ditempat senyaman itu tentu tidak terasa. Setelah 2 pasien tersebut, dokter pun memanggil saya.
Saya jelaskan mengenai kondisi saya dan saya juga telah memberikan hasil USG dan CT-Scan sebelumnya untuk dibaca sebelumnya. Akhirnya dokternya menjelaskan kembali bahwa memang ada "masa" yang terlihat dengan ukuran tidak terlalu besar. Ketika di Indonesia, ukuran diameter 7-8 centi itu sudah besar kategorinya, berbeda dengan standar disana karena hanya dibilang tidak terlalu besar. Masa ini juga dia ragu untuk menyatakan kanker atau bukan, dan menyarankan untuk CT-Scan kembali menggunakan zat kontras. Tetapi beliau meyakinkan bahwa kemungkinan ini bukan kanker, tapi untuk lebih pasti sebaiknya melakukan test tersebut. Akhirnya kami putuskan untuk test ulang. Saya juga diperiksa darah untuk general check-up.
Untuk cek darah dilakukan di rumah sakit tersebut, hanya untuk CT-Scan dokter mengarahkan ke klinik lain yaitu Asiamedic. Sebuah klinik spesialis screening kesehatan yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit tersebut. Alasan dokter memilih lokasi yang berbeda ternyata menurut beliau disana lebih murah biayanya. Saya ditanya apakah akan membayar langsung disana atau disini, dan saya memilih bayar disini saja sekalian bayar biaya konsultasi.
Untuk rincian biaya adalah sebagai berikut:
- Biaya konsultasi pertama kali (akan berbeda untuk berikutnya): SGD 180;
- Biaya cek darah General Screen: SGD 180;
- Biaya CT-Scan dengan kontras: SGD 750;
jadi total biaya yang saya keluarkan hari itu sebesar SGD 1.209.90 dikarenakan ada GST 9% sebesar SGD 99.90. Jumlah yang diluar dugaan dari bayangan awal karena kerabat saya pernah CT-Scan di rumah sakit swasta di Jakarta dengan biaya 10 jutaan. Untuk cek darah yang diperiksa adalah Lipid profile, diabetes melitus profile, liver profile, bone/joint function, kidney profile, serum creatinine, urine microalbumun/creatinine, inflammatory markers, hepatitis profile, thyroid function, tumour markers, haematology, erythrocyte sedimentation rate, urinalysys, urine chemistry dan urine microscopy. Untuk pemeriksaan darah dan urin ini ternyata dilakukan oleh Innoquest Laboratory yang terletak di The Paragon sebrangnya rumah sakit tersebut.
Setelah diberikan arahan lokasi oleh staff disana kamipun berangkat jalan kaki ke klinik tersebut. Lokasinya terletak dilantai atas plaza Shaw House. Tiba di Asiamedic, kamipun disambut staff yang ramah yang begitu melihat paspor saya Indonesia, staff tersebutpun langsung berkomunikasi dengan bahasa melayu.
Untuk prosedur CT-Scan kali ini berbeda dengan yang pertama kali di Indonesia, tidak harus puasa, mengosongkan perut juga memasukan cairan ke anus. Pertama dipasangkan alat untuk infus zat kontras di tangan. Selang beberapa lama sayapun masuk ke ruang CT-Scan. Setelah mendengarkan arahan tata cara dan memilih menggunakan bahasa melayu untuk instruksi pemeriksaaan sayapun berbaring dan mulai prosedur pemeriksaan. Pada saat pemeriksaan tidak ada orang di ruangan tersebut selain saya, dan saya mendengarkan instruksi petugas untuk mengambil nafas, menahan nafas, dan bernafas normal. Setelah beberapa kali keluar masuk alat, petugas pun masuk dan mulai memasangkan infus kontras, Setelah itu petugas kembali keluar, dan pemeriksaan dilanjutkan seperti yang pertama kali. Prosedur pemeriksaan ini menghabiskan waktu kurang lebih 30-45 menit. Setelah selesai pemeriksaan, kami diberi CD kosong dan disuruh untuk ke resepsionis untuk copy data hasil. Setelah menunggu 15 menit CD tersebut pun sudah terisi data. Petugas menanyakan kapan janji dengan dokter, dan saya katakan besok jam 9.00. Untuk hasil analisanya akan diberikan ke dokter langsung dan kami diperbolehkan langsung pulang.
Kebetulan pada saat saya selesai, memasuki jam makan siang, lagipula saya dan istri saya belum sarapan. Saya dan istri memang sudah terbiasa skip sarapan mengikuti diet intermitten fasting. Jadi bukan hal yang merepotkan. Kami memilih mencari makan di Lucky Plaza karena lokasinya bersebrangan dengan Shaw House juga karena Lucky Plaza dari informasi yang saya dapat terkenal karena barang-barangnya yang murah, jadi kami pun berfikir makanannya pun pasti murah. Setelah melihat papan informasi, kami memilih pujasera di lantai bawah. Dari lokasinya pun bisa terlihat kalau tempat makan disini harusnya tidak mahal, lebih mirip kantin karyawan dibanding pujasera mall. Dan memang harganya sekitar SGD 5- SGD 12. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami pun pesan makan Bakuteh dan kwechap. Bakuteh adalah semacam sup iga daging babi dan kwechap itu campuran daging babi dan jeroannya dimasak dengan semacam kecap. Seperti saya jelaskan sebelumnya, "Bak" itu adalah daging babi, jadi kalau ada bakuteh daging sapi atau bahkan ayam maka menyimpang dari kodratnya. Bakuteh kalau tidak salah SGD 7-8, kwechap SGD 6 dan nasi putih seharga 0.5 SGD. Porsinya lumayan, untuk 2 macam lauk pauk bisa untuk 3 orang karena iga di bakutehnya pun 3 potong dan besar-besar. Kami tidak beli minuman karena memang tidak suka minuman selain air putih untuk menemani makan, juga untuk menghemat. Kami membawa air minum yang kami isi ulang di klinik tadi. Sangat mudah mendapatkan air putih secara gratis disini.
![]() |
| Bakuteh, kwechap dan 2 porsi nasi |
Situasi cukup ramai saat itu, setelah duduk santai sejenak, kami pun memutuskan untuk segera pulang dikarenakan awan gelap sudah menandakan akan datang hujan. Sebelum pulang ke hotel kami pun memutuskan untuk makan malam. Lokasi kali ini saya putuskan di Maxwell.
Setibanya di maxwell dan kami berkeliling, akhirnya diputuskan untuk makan chicken rice. Ada beberapa konter yang menjual, tapi satu yang menarik karena antriannya lumayan panjang. Tian Tian Hainanese Chicken Rice. Akhirnya saya memesan 1 porsi chicken rice seharga sekitar 8 SGD. Saya memilih menu lain karena ingin mencoba sup ikan. Masih terbayang sup ikan Yongki Batam yang membuat kangen lidah ini.harga sup ikan ini dengan nasi juga tidak sampai 7 SGD. Setelah datang makanan, ternyata istri saya tidak suka saus kecap yang di chicken rice, sisanya dia bilang enak, saya pun mencicipi dan memang enak. Saya tidak ada masalah dengan sausnya. Sayangnya sup ikannya tidak seenak yang dibayangkan. Sedikit amis, hambar, dan bikin mual. Entah karena saya habis diinfus zat kontras dan lupa minum yang banyak atau memang masakannya yang bermasalah. Kebalikan dengan istri saya yang malah suka dengan sup ikannya. Dia memang nggak suka rasa MSG, jadi lebih suka rasa yang plain seperti sup ini, murni rasa ikan. Belakangan saya tahu ternyata Tian Tian termasuk yang terkenal dan masuk dalam Michellin Guide, yang sayangnya harga disini lebih mahal 1 SGD dibanding dengan yang berada di foodcourt Lucky Plaza atas.
Oya, kami juga baru tahu kalau kebiasaan disana untuk booking tempat duduk disana dengan menyimpan tisu di meja. Waktu itu istri saya karena tidak tahu, duduk di meja yang ada tisu tersebut, malah ada orang lain yang juga menanayakan apakah kosong di kursi meja itu dan mempersilahkan untuk duduk bersama. Untungnya orang yang punya tisu tidak keberatan karena dia hanya sendirian, jadi makan lah bersama di meja itu dengan 2 orang yang tidak dikenal. Atas saran orang yang tadi minta duduk sebelumnya, kami mencoba membeli cemilan yang menyerupai kue bantal dan cakue. Saya lupa dan tidak mendokumentasikannya, tapi kata beliau yang orang lokal, makanan itu termasuk legend dan kami disuruh membelinya. Memang dagangannya nggak pernah bertahan lama dipajang. Harganya SGD 2 untuk 5pcs. Kami pun beli 5 pcs. Diberi pilihan menggunakan gula halus atau tidak dan kami pilih pakai. Untuk Rasa memang enak, kue bantal dengan berbagai isian seperti kacang merah dll. mungkin perlu sedikit adaptasi lidahnya karena ada aroma bunga lawang di makanan tersebut. Puas makan, kami pun pulang ke hotel dan beristirahat. Kami memang memutuskan beristirahat dini karena semalam sampai di hotel pukul 01.00 waktu Singapura.
Keesokannya kami pun datang ke klinik. Sebelum ke klinik kami memutuskan untuk sarapan di rumah sakit. Ternyata disini tidak ada makanan berat, hanya ada kedai kopi saja. Akhirnya kami membeli roti dengan harga kurang lebih SGD 6-8/pcs, harga yang lumayan untuk makan croissant dan sandwich. Setelah makan kami pun segera menuju klinik.
Kali ini karena sudah ada janji sebelumnya, kamipun langsung masuk tanpa antre. Dokter menjelaskan mengenai kondisinya. Berdasarkan hasil cek darah tidak ada masalah besar, meskipun ada tanda peradangan dan infeksi yang menurut beliau wajar karena ada batu. CT-Scan sekarang dokter berani menyimpulkan bahwa benjolan tersebut adalah kista. Yang jadi permasalahan adalah adanya penipisan dindin ginjal di kista yang mengindikasikan adanya sindrom bosniak type III dimana resikonya 50% bisa menjadi kanker. Meskipun demikian dia berkeyakinan bukan kanker. Dokter menyarankan melakukan operasi untuk mengangkat kista tersebut sekalian melakukan biopsi untuk mengetahui kanker atau bukan. Operasi tersebut hanya membuang kista tanpa perlu mengangkat ginjal seluruhnya.
Untuk biaya operasi adalah sekitar SGD 60.000. Kagetlah kami mendengar biaya tersebut, dokter juga menanyakan apakah ada asuransi atau tidak dan saya jawab tidak. Dokter pun sadar bahwa itu bukan biaya yang sedikit apalagi tanpa ada asuransi. Akhirnya beliau memberikan pilihan kedua yaitu bulan depan melakukan test MRI untuk memastikan bahwa itu kanker atau bukan. Hal ini penting karena akan mempengaruhi tindakan selanjutnya dimana apabila ternyata bukan kanker, maka tindakan yang dilakukan selanjutnya lebih sederhana. Apabila bukan kanker, maka akan dilakukan pengeluaran cairan kista lalu menjahitnya agar terbentuk lobang agar cairan tidak terisi kembali nantinya. Sebuah operasi kecil seharga SGD30.000 termasuk pemasangan selang di ginjal karena saluran keluarnya terhalang oleh kista ini. Biaya yang tidak sedikit juga, tapi lebih realistis dan akhirnya saya mengambil opsi terakhir untuk melakukan test MRI bulan depan.
Setelah membayar biaya konsultasi sebesar SGD 100, obat antibiotik cipro seharga SGD25/box dan test kultur urine SGD 75. Yang mengagetkan ternyata antibiotiknya buatan SANBE Bandung. Dengan perasaan bingung kamipun pulang. Sebelum pulang kami memutuskan untuk jalan-jalan di orchad untuk beli oleh-oleh di Lucky Plaza.
Kami makan siang di foodcourt lucky plaza. Siang ini menu kami adalah Yong Tofu dan nasi untuk istri saya seharga SGD 8 dan Hokkien Mee seharga SGD 7
Setelah jalan-jalan dan membeli beberapa oleh-oleh kami pun pulang dan beristirahat di hotel. Oya, kami juga membeli anggur black autum seharga SGD 2 / kotak di kios buah pinggir jalan antara Lucky Plaza dan Tang Plaza. Lumayan murah untuk mendukung keseimbangan gizi. Rencana jalan-jalan ternyata terkendala hujan. Kami tidak membawa payung atau jas hujan jadi memutuskan menunggu hujan reda. Setelah hujan reda, kami pun memutuskan untuk jalan-jalan di paragon mall sebelah lucky plaza yang ternayata ada supermarket. Sekalian membeli beberapa oleh-oleh buat anak kami coklat Mr. Beast, salah satu youtuber kesukaan anak kami. kami juga membeli roti sourdough ukuran besar seharga SGD 7 untuk sarapan besok.
Hari sudah malam dan kamipun memutuskan untuk kembali makan. Rencana mau beli bakuteh kembali karena rasanya enak, murah dan banyak. Mungkin terlalu malam, mereka sudah beres-beres mau tutup. Kamipun mencari-cari di foodcourt atas, untungnya kebanyakan masih buka. Malam ini kami memesan nasi campur. Ada kejadian unik di pemesanan nasi campur. Saya melihat menu diatas Rice + 2 Meat + 1 Vegetables harganya SGD 7. Saya pun dengan pede memesan dengan menunjuk satu potong daging seperti bistik dengan ukuran lumayan besar, daging tepung asam manis dan ca pakcoy. Untuk istri saya saya ambilkan semacam kungpao chicken, dan entah daging bistik dan oseng toge. Untuk makanan tersebut ternyata saya harus membayar SGD 12/orang. Harga termahal yang pernah saya makan di Singapura. Rupanya saya harus bilang beli paket tersebut, nanti dia menunjukan yang mana saja yang bisa dipilih. Pantes saya merasa murah sekali makan daging sebanyak itu, ternyata salah. Dengan perasaan dongkol tapi kenyang dan puas kamipun pulang ke hotel.
Setiba di hotel kami merencanakan untuk jalan-jalan kemanakah besok karena pesawat kami berangkat malam hari. Pada dasarnya kami bukan datang ke Singapura untuk jalan-jalan, oleh karena itu kami pun sangat selektif untuk memilih lokasi jalan-jalan agar tidak membebani keuangan. Jadi kami memilih beberapa lokasi yang gratis dan dipilihlah Chinatown karena konon katanya harga oleh-oleh disana murah-murah. Dan untuk makan siang kami putuskan menuju salah satu tempat makan legendaris Lau Pa Sat dan tentu saja harus mencoba fried kway tiaw-nya Lau Fu Zi. Salah satu penjual kwetiaw legendaris yang masuk dalam Michelin Guide.
Keesokan harinya, setelah kami sarapan dan beristirahat sejenak, kamipun checkout. Kami langsung menuju Lau Pa Sat. Cukup sulit mencari Lau Fu Zi karena ternyata luas dan banyak sekali stan penjual makan lainnya. Mungkin ini terbesar dan teramai yang pernah saya kunjungi. Untuk istri saya saya pesankan Nasi Bebek panggang seharga SGD 7 karena dia minta saya pilihkan dengan syarat nggak boleh mahal-mahal. Untuk kwetiawnya saya pesan ukuran medium seharga SGD 10. Saya pilih versi whitenya, karena saya ingin membandingkan dengan kwetiaw Agap di bandung, kwetiaw tanpa kecap pertama yang rasanya langsung memberikan peringkat tertinggi diantara semua kwetiaw goreng yang pernah saya makan.
Untuk rasa, sebenarnya tidak seenak kwetiaw Agap, entah karena pengaruh di daging atau MSG yang ditambahkan, tapi keduanya memiliki aroma smokey yang saya harapkan. Keduanya sama enak dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Perbedaannya mungkin apabila kwetiaw Lau Fu Zi rasanya tidak akan bosan apabila dimakan setiap hari dibanding kwetiaw Agap. Soal rasa, kwetiaw Agap juaranya, tapi Lau Fu Zi dengan rasa yang cenderung plain lebih menciptakan rasa kangen akan rasa tersebut. Sebuah kwetiaw goreng yang sangat berkarakter walau rasa mungkin terasa biasa saja, layak mendapatkan Michelin Guide. Inilah yang membuat saya kembali kesini memesan makanan yang sama ketika kunjungan kedua kali nantinya. Oya, yang bisa menandingi rasa kwetiaw Agap ada di Penang yang nanti akan saya ceritakan di lain waktu. Sebuah kwetiaw sederhana dengan rasa yang luar biasa.
Setelah makan, kami lanjutkan menuju Chinatown, khususnya pasar Chinatown. Di luar pasar banyak lapak pedagang suvenir atau makanan. Kalau sayaperhatikan harga memang sedikit lebih murah atau sama dengan Lucky plaza. Beberapa mirip, tapi banyak juga barang yang berbeda. Masuk ke dalam area Pasar sangat berbeda, suasana kurang lebih seperti Pasar Baru Bandung, dimana dilantai bawah atau basement adalah pasar basah dan bagian atas menjual pakaian, manisan dll. Kualitas bangunan pun mirip dengan Pasar Baru Bandung. Puas jalan-jalan, saya pun tertarik membeli minuman segar yang dari awal datang bandara Soekarno Hatta menarik perhatian. Minuman Ijooz, minuman murni air jeruk peras. Yang menarik harganya SGD 2 dibanding Ijooz jakarta yang harganya 40rb. Setelah beristirahat sejenak kamipun melanjutkan perjalanan ke bandara untuk pulang ke Jakarta.
Untuk makan malam kami di bandara Changi. Setelah mencari-cari harga yang lumayan dan mengenyangkan, alias mengandung nasi, akhirnya diputuskan memesan basi kandar. Ya, saya tau ini khasnya Malaysia, tapi karena pilihan yang menariknya nasi kandar, dan saya belum pernah makan itu, maka kami memutuskan makan nasi kandar. Kami memesan nasi ayam bawang dan nasi ayam madu seharga SGD 7. Pertama kali makan nasi kandar rasanya mirip nasi padang dengan tambahan rempah khas(India?).
Itulah cerita pengalaman saya berobat ke Singapura. Kami tidak jalan-jalan dan mencoba menghemat sebisa mungkin walaupun pengeluaran kami sepenuhnya ditanggung kerabat kami. Kami ingat bahwa kedatangan kami adalah untuk berobat, jadi lupakan wisata yang tidak penting dan memakan biaya tambahan. Lagipula kamu suka jalan-jalan dan berbaur menjadi warga lokal. Maksudnya kami mencoba menggunakan sudut pandang orang lokal dimana dalam keseharian beraktivitas normal bukan sedang dalam acara wisata. Kami sangat terkesan dengan betapa bersih dan teraturnya Singapura. Hak kita sebagai pejalan kaki sangat dihormati, apabila kita menyebrang di jalur penyebrangan tanpa lampu merah, kendaraan pasti dari jauh sudah melambatkan kendaraannya. Kondisi berbeda di Indonesia yang bila kita menyebrang malah mendapatkan klakson atau kedipan lampu. Untuk makanan mungkin sedikit membosankan, tapi beberapa makanan seperti kwetiaw Lau Fu Zi dan Bakuteh pujasera bawah Lucky Plaza adalah menu wajib yang akan saya datangi lagi.





Komentar
Posting Komentar